Monday, February 27, 2006

Trying To ESCAPE



Sesuai dengan permintaan Ang Tek Khun, gue mo coba nulis tentang Escape. Oh ya, dia ini salah satu penulis favorit saya loh, jd kalo ada waktu silakan berkunjung ke blognya

(Note: ko, aku wes promosiin blogmu loh! Sapa tau aku abis gini keterima jd junior writer di Kairos, hehehehe)

Perbedaan antara undo dan escape itu besaaarr. Kenapa? Persamaan dari undo dan escape adalah, sama2 menghadapi masalah. Undo dan escape merupakan salah satu cara 'menghindari' masalah. Letak perbedaannya, undo mencoba mengkoreksi hal yang salah, dalam arti kata toh nantinya tetep disave. Sementara escape, bener2 ninggalin hal/ pekerjaan itu tanpa bermaksud men-savenya.

Istilah kerennya, lari dari masalah. Dulu, pas skolah saya (agak) sering escape dr mata pelajaran yg gak saya suka. Istilah kerennya 'cabut'. Tapi sepinter2nya saya cabut, toh ya mau gak mau saya harus ngadepin guru itu :) Saya gak bisa lari dr sekolah sepanjang saya belum lulus. Dan untuk lulus, mau gak mau saya mesti bisa menghadapi mata pelajaran itu. Bukan dengan escape :)

Talking about escape, smua orang pasti pernah takut dan dapet masalah besar serta berusaha untuk lari. Begitu juga dengan tokoh yang saya kagumi satu ini. Dalam humanityNya, Dia pernah berkata, "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku"

Well, Dia bukan sumber masalah. Tapi manusia, dan Dia yang mesti menanggung dosa2 manusia. He is my God. Tapi ketika Dia memikirkan manusia, memikirkan sebetapapun berat masalah yang Ia harus hadapi, Ia berpikir bahwa manusia terlalu berharga untuk ditinggal. Pekerjaan ini terlalu berharga untuk di escape, untuk tidak di save dan hanya dihilangkan begitu saja.

For me, that' s called LOVE.

Hal ini yang menjadi pegangan buat gue. Seberat apapun masalah yang gue hadapin, gue ga boleh lari. Apapun kondisinya, gue harus hadapin. Mungkin karena kesalahan gue, hidup bisa aja rusak, ga tau lagi mo ngapain. Tapi kalo ada orang lain yang bisa liat hidup gue begitu berharganya, maka gue harus bisa ngeliat kalo hidup ini emang berharga.

Hidup ini hanya sekali, ga bisa di undo, ga bisa diputer balik. Tapi kalo salah melangkah, bukan berarti hidup ini harus ditangisi, dan harus diakhiri. Hidup ini terlalu berharga buat di tangisi. Terlalu berharga buat diakhiri.

Kata-Nya: "Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki." Mark 14:36

"Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." Mat 3:16

For someone out there:
When I ask the Lord how much He loves me, He streched His hand and died on the cross. As much as that He loves you too.

No comments: