Thursday, November 06, 2003

Mee's Testimony : I Miss U, dad!

Tadi abis baca, postingannya salah satu temen, si Tony kalo ndak salah... (Kalo salah, maapin ya? Mee lupa soalnya, udah kebanyakan temen yang ngeblog). Tapi postingannya bagus banget. Doi berpikir tentang keluarganya, en mengucap syukur buat kesempatan dia kuliah di Luar Negeri. Sementara keluarga mereka berusaha keras supaya dapat memberikan yang terbaik buat dia, sehingga bisa mendapatkan pelajaran yang lebih baik en kehidupan yang lebih baik di Luar Negeri.Mee pikir, itu bener2 cerita yang bagus banget. Mee bersyukur punya temen yang mau berpikir tentang keluarganya.
Terus tadi liat bos sama anaknya yang masih kelas 1 SMA. Beliau keliatan banget sayang sama anak cewek satu2nya, dan dinasehatin baik2. Hehehehe... to be honest, Mee iri banget. Mee bertanya - tanya dalam hati, kapan ya terakhir kali Mee dinasehatin sama papa?

.:My Story:.
Mee mo sedikit cerita, sekalian sharing sekalian kesaksian neh. Papa Mee sudah ndak ada lagi. Ketika papa masih hidup, dia bukan figur seorang papa yang baik bagi anak2nya. Kesalahan demi kesalahan dia lakukan, sehingga menimbulkan luka di hati Mee, mama Mee, sama dede2 Mee. Sampai akhirnya papa pergi tanpa alasan yang jelas.
Tahun demi tahun dilewati dengan perjuangan tanpa seorang kepala keluarga. Papa Mee meninggalkan banyak masalah yang harus di urus, smpet kacau memang. Tapi oleh anugrah, dan kasih karunia, keluarga Mee bisa menjadi seperti yang sekarang ini. dan itu lebih dari cukup. Mee bersyukur banget.
Setelah sekian tahun perjuangan, akhirnya papa Mee kembali. Waktu itu, Mee belum lahir baru. Kepaitan banget sama papa Mee. Mee menyalahkan semuanya pada papa.
Ternyata papa Mee sedang sakit. Dan tidak ada yang mau menerima dia kembali. Dia berharap bisa kembali pada keluarganya. Pada waktu itu Mee tersenyum pahit, dan berpikir; "keluarga? Sejak kapan kamu menganggap keluarga? Sejak tidak bertanggung jawabkah? Sejak lari kah?"
Berjuta-juta pertanyaan, dan kekecewaan muncul di dada Mee. Sampai akhirnya Mee sadar, kalo papa bener2 sekarat. Papa kena kanker Otak stadium 4 . Dokter bilang nyawanya sudah tidak bisa terselamatkan lagi. Semua kebanggan yang dia kumpulkan, harta, en ketenaran, menjadi tidak berharga lagi. Sebelum dad meninggal, dad minta maaf sama Mee, ama dede ama Mom.
Yang menjadi hadiah paling indah (Karena papa meninggal pas Mee ulang tahun), sesaat sebelum meninggal, papa udah terima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi. Mengingat papa kena kanker otak, sehingga ndak bisa ngomong jelas. Ndak bisa inget apa2 ( nama Mee aja kadang2 lupa, kok) Adalah ajaib dan dahsyat, sebelum detik 'perginya' papa Mee; beliau bisa berkata dengan lantang dan jelas: "YA, AKU MENERIMA YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURUSELAMAT PRIBADIKU. Datanglah segera, Yesusku.."

Mee menangis, ternyata segala sesuatu membawa kebaikan. Papa udah tenag di alam sana. Thank God, dia udah selamat.

You know, guys. Meskipun hampir ndak ada kenagan manis mengenai papa, tapi Mee bener2 kangen sama papa Mee. Mee tahu, papa ndak mungkin kembali. So, cuma pengen ngomong, haragilah kedua orang tuamu selama mereka masih ada. Sekarang yang Mee bisa lakukan, adalah menjaga mama Mee. Mumpung beliau masih ada, masih hidup. Mee mengucap syukur banget buat mama kayak beliau. (I luv U, Mom!)
En Mee menemukan, bahwa tidak ada, ayah lagi yang sebaik Yesus, rite?

::Psa 68:5 A father1 of the fatherless,and a judge of the widows,is God430 in his holy habitation.::

::Another Story about Dad::
Seeing and Believing
A blind girl, whose eyes had been opened by a surgical operation, delighted in the sight of her father who had a noble appearance and presence. His every look and motion were watched by his daughter with the keenest delight. For the first time his constant tenderness and care seemed real to her. If he caressed her or even looked upon her kindly, it brought tears of gladness to her eyes. "To think," she said, holding his hand closely in her own, "that I have had you for a father all these years, and never really knew you.

NB: I miss U, daddy!

No comments: